Keraton Kuto Gawang

Keraton Kuto GawangOleh: Djohan Hanafiah

Bangunan pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi, bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam pada awal dan pertengahannya? Nasibnya hampir sama. Peninggalan di akhir Kesultanan Palembang (abad ke-19) nyaris hancur atau tidak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan direnovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1757).

Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyayi yang datang dari Jawa pada abad ke-16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan Kerajaan Demak. Para priyayi ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyayi yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede Ing Sura. Dari nama dan gelarnya diketahui setidaknya dia adalah seorang sura, yang berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J. de Graaf “Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis, dan Ki Ageng Pemanahan, dan bukan raden, menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Akan tetapi, memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka di daerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede di belakang sebutan ki”.

Peran dan Fungsi Keraton
Keraton pertama yang didirikan oleh Ki Gede ing Sura ini adalah Keraton Kuta Gawang, situsnya sekarang menjadi kompleks Pabrik Pupuk Sriwijaya (Pusri). Makamnya berada di luar Kuta Gawang, yang sekarang dikenal sebagai makam Candi Gede ing Suro. Nama kerajaan yang didirikan adalah nama Palembang, suatu nama yang kharismatis dalam dunia Melayu. Legitimasi yang mereka bawa adalah dari Kerajaan Demak, yang juga merupakan “pewaris” Kerajaan Majapahit. Untuk memperkuat diri mereka di tengah orang-orang Melayu, selain melakukan perkawinan antarkeluarga keraton dengan orang-orang besar Melayu, mereka juga mengadaptasikan kebudayaan Melayu.

Keraton yang menjadi inti ibukota secara kosmologis merupakan pusat kekuatan magis kerajaan itu. Keraton Palembang adalah pusat dari Batanghari Sembilan, yang merupakan lambang kosmologi, yaitu adanya delapan penjuru mata angin, di mana penjuru kesembilan berada di Keraton Palembang Dengan demikian, klaim Palembang atas daerah-daerah luarnya berada di batas-batas batanghari (sungai). Luas kerajaannya bergantung siapa yang menjadi rajanya. Batas Kerajaan Palembang bisa besar dan bisa mengecil. Jika rajanya berpengaruh dan berdiplomasi tinggi, daerahnya akan meluas, demikian pula sebaliknya.

Kesultanan Palembang membagi wilayahnya menjadi:

Ibukota
Sebagai pusat kosmos, pusat kebudayaan, pusat politik dan kekuasaan, pusat magis dan legitimasi. Wilayah ini sepenuhnya di bawah Sultan Palembang.

Kepungutan
Kepungutan adalah daerah yang langsung diperintah Sultan. Menurut de Brauw “… dengan orang Kepungut, yang berarti ‘dipungut’ (dilindungi’, dimaksudkan adalah orang-orang pedalaman Palembang, yang langsung berada di bawah kekuasaan raja-raja. Mereka dikenakan segala pajak. Berbeda dengan penduduk perbatasan, yang tidak dibebani dengan pelbagai macam pajak, dan hanya dianggap sekutu yang hanya dikenakan cukai”.

Sindang
Di perbatasan wilayah kepungutan terletak wilayah sindang, yang merupakan wilayah paling ujung atau pinggir. Tugas sindang adalah menjaga batas-batas kerajaan. Penduduknya tidak membayar pajak dan beban-beban lain dari Kesultanan Palembang. Mereka dianggap orang-orang merdeka atau teman dari Sultan. Mereka hanya punya “kewajiban” (lebih bersifat adat), yaitu seba, setidaknya tiga tahun sekali ke Palembang. Menurut du Bois: “Tidaklah atas dasar kewajiban, akan tetapi oleh karena adanya adat di kalangan pribumi untuk saling kunjung-mengunjungi dan menjadi kebiasaan, bahwa mereka juga tidaklah datang dengan tangan hampa.”

Sikap
Di antara kedua bentuk wilayah tersebut terdapat wilayah sikap, suatu dusun atau kumpulan dusun yang dilepaskan dari marga, dibawahi langsung oleh pamong Sultan, yaitu jenang dan raban. Dusun-dusun ini terletak di muara-muara sungai yang strategis, dan mereka mempunyai tugas-tugas khusus untuk Sultan, umpamanya sebagai tukang kayuh perahu Sultan, tukang kayu, tukang pembawa air, prajurit, dan pelbagai keahlian lainnya. Mereka dibebaskan dari pelbagai bentuk pajak. Tugas yang dilakukan mereka adalah gawe raja.

Keraton Kuto Gawang adalah sebuah keraton yang setidaknya telah berdiri selama 100 tahun, sebelum dibakar habis oleh VOC tahun 1659. Kuta Gawang berbentuk empat persegi, dikelilingi kayu besi dan unglen empat persegi dengan ketebalan 30 x 30 cm. Panjang dan lebar benteng ini berukuran 290 Rijnlandsche roede (1093 meter). Tinggi dinding temboknya adalah 24 kaki, atau kurang lebih 7,25 meter.

Benteng ini menghadap Sungai Musi dengan pintu masuk melalui Sungai Rengas. Sedangkan bagian kanan dan kiri benteng dibatasi oleh Sungai Buah dan Sungai Taligawe. Benteng ini mempunyai tiga baluarti di mana baluarti tengah terbuat dari batu. Orang orang asing bermukim di Seberang Ulu Sungai Musi. Mereka adalah orang-orang Portugis, Belanda, Cina, Melayu, Arab, Campa, dan lainnya.

Benteng ini mempunyai pertahanan berlapis dengan kubu-kubu yag terletak di Pulau Kemaro, Plaju, Bagus Kuning, dan Plaju. Di samping itu terdapat cerucuk yang memagari Sungai Musi antara Pulau Kemaro dan Plaju. Kuta Gawang merupakan kota yang dilindungi oleh kuto (= pagar dinding tinggi), sebuah tipikal kota zaman madya.

Pengetahuan kita tentang kota pada zaman Kuta Gawang ini amat sangat terbatas. Selain peta yang dibuat oleh Laksamana Joan Vander Laen sebelum menyerbu Palembang tahun 1659, juga sketsa tentang peperangan tahun 1659 di Kuta Gawang . Tidak ada naskah Palembang yang menjelaskan tentang bentuk dan isi Kuta Gawang tersebut. Oleh karena Kuta Gawang tersebut sangat tertutup, maka para penulis Eropa hanya menganalisis dari peta dan sketsa Kuta Gawang tersebut. Yang ada hanyalah laporan tentang penyerbuan ke Kuta Gawang serta pembumihangusan Kuta Gawang yang memakan waktu berhari-hari.

Atas peristiwa ini, raja dan rakyat Palembang mengungsi ke luar kota meninggalkan reruntuhan Kuta Gawang yang telah menjadi arang dan abu. Raja Palembang, Seda ing Rejek mengungsi ke Sakatiga (wilayah Kabupaten Ogan Ilir) dan wafat di sana. Selanjutnya, nasib Kuta Gawang setelah lebih 200 tahun kemudian terekam dalam sebuah laporan “… suatu tempat di mana satu abad lalu (sebenarnya dua abad lalu, penulis), telah berdiri keraton atau dalem dari Raja-raja Palembang waktu itu. Sedikit bekas bangunannya masih dapat dilihat, di sana sini ada sepotong dinding ditumbuhi tumbuhan yang memanjat dan bunga-bunga warna-warni yang biasa tumbuh di padangan. Reruntuhan gerbang dinaungi dan dilindungi di bawah beringin yang menarik, adalah segala-galanya sebagai sisa kenangan yang hidup, dari suatu tempat, di mana pernah ada suatu kerajaan, kemegahan, dan perlakuan despotisme. Di dekatnya atau sekitar reruntuhan berdirisuatu pendopo yang indah, pada musim kemarau kepala-kepala (pejabat) bangsa Melayu yang bertugas, ambtenar-amtenar, dan perwira-perwira bangsa Eropa berkumpul, untuk melatih diri dalam menembak menggunakan senapan dan yang serupanya (buks). Tempat ini diperkaya oleh alam dengan pohon-pohonan, flora dan fauna memberikan banyak manfaat. Gerombolan monyet bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain, dari ranting ke lain ranting, bahkan suara tembakan senapan tidak memaksa mereka meninggalkan tempat itu, karena banyaknya buah-buahan dan bunga-bunga yang tersedia.”

Pada tahun 1960-an tempat ini kemudian dibuka untuk pendirian pabrik pupuk, yaitu Pupuk Sriwijaya (Pusri). Pada waktu penggalian untuk konstruksi pabrik, banyak sekali terdapat balok-balok kayu bekas dinding kuto, juga temuan lainnya. Sayangnya, pada waktu itu kita belum mempedulikan masalah kesejarahan, sehingga temuan-temuan tersebut tidak menjadi perhatian.

Advertisements

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on February 24, 2014, in Sejarah and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: